Minggu, 04 Maret 2012

Pengembangan Instrumen Tes Dan TYeknik Penskoran


PENGEMBANGAN  INSTRUMEN TES DAN TEKNIK PENSKORAN

Penilaian pendidikan pada umumnya menggunakan tes. Tes dapat berbentuk lisan , tes tulis, dan tes perbuatan. Dalam pendidikan yang menggunakan kurikulum berbasis kompetensi, maka kompetensi siswa yang diharapkan berupa kemampuan atau kompetensi yang bersifat kognitif, afektif, maupun psikomotor. Oleh karena itu pengembangan alat ukur yang dibahas mencakup tiga aspek tersebut. Pengembangan instrumen kognitif mencakup tes objektif, tes nonobjektif, tes unjukkerja, dan portofolio.
1.  Prosedur Pengembangan Instrumen Tes Kognitif
a.       Mengembangkan spesifikasi tes
Aspek pegembangan pengembangan Spesifikasi Tes kognitif
1)     Menetukan  subjek yang akan dites
2)     Menentukan  tujuan pengukuran
3)     Menentukan tipe tujuan yang akan digunakan
4)     Menentukan materi
5)     Menentukan jumlah soal
6)     Menetukan sebaran(distribusi) soal
b.       Menulis / Menyusun soal
Soal dapat dikontruksi dengan memperhatikan kesesuaian indicator dan intruksi soal yang terdapat pada kisi-kisi soal
c.       Menelaah Soal
1)     Penelaahan butir soal adalah pengujian kualitas soal secara teoritis
2)     Penelahan butir soal merupakan evaluasi terhadap soal-soal yang telah ditulis berdasarkan pendapat professional.
3)     Penelaahan butir dapat dilakukan pada tiga aspek yaitu, aspek materi, konstruksi, dan aspek bahasa.
d.       Merakit soal untuk uji coba
1)     Dari penelaahan butir soal diperoleh informasi:
·        Soal yang dianggap baik dapat diterima
·        Soal yang dianggap tidak baik itu ditolak
·        Soal yang kurang baik, tetpai dapat direvisi untuk kemudian diterima.
2)     Penggunaan butir tertentu membuat jumlah butir soal menjaid berkurang dan tidak sesuai lagi yang tercantum pada table spesifikasi dan kisi-kisi
3)     Untuk mendapatkan jumlah butir soal yang sesuai dengan jumlah dan proporsi yang terdapat pada table spesifikasi dan kisi-kisi, maka kita dapat membuat soal baru untuk menggantikan butir-butir yang digugurkan
4)     Soal pengganti tersebut harus memiliki aspek kognitif, tingkat kesukaran, dan indicator yang sama dengan butir yang digantikan
e.       Uji coba Tes
1)     Untuk mengidentifikasi soal-soal yang baik dan jelek
2)     Untuk mengidentifikasi tingkat kesukaran soal
3)     Untuk mengidentifikasi daya pembeda soal
4)     Untuk menetukan alokasi waktu yang ideal
5)     Untuk menemukan salaing hubungan antar soal dan menghindari adanya tumpang tindih
6)     Untuk menemukan kelemahan-kelemahan dalam petunjuk
f.        Analisis Butir Soal
1)     Hasil uji coba selanjutnya dianalisis untuk mengetahui kualitas setiap butir tes
2)     Analisis dilakuakan untuk menentukan koefisien realibitas instrument tes, daya pembeda setiap butir, tingkat kesukaran setisp butir, efektif tidaknya option pengecoh.
g.       Seleksi Soal dan Merakit Soal
1)     Hasil analisis butir selanjutnya digunakan untuk menyeleksi soal, yakni memilih soal-soal yang akan dimasukkan dalam perangkat tes final, soal-soal yang perlu direvisi, dan soal-soal yang harus disisihkan(digugurkan)
2)     Soal-soal yang terpilih selanjutnya disusun(dirakit) menjadi sebuah pearangkat tes.
2. Penskoran Tes Kognitif
    Penskoran  tes kognitif terbagi atas 3 macam yaitu :
a.     Penskoran bentuk pilihan ganda
1)     Tanpa koreksi
Skor =
2)     Dengan koreksi
Skor =  x 100
Keterangan :
 = banyaknya butir yang dijawab salah
= banyaknya butir yang dijawab benar
= banyaknya option
 = banyaknya butir soal
b.     Penskoran bentuk objektif
Untuk bentuk uraian tes objektif, setiap langkah penyelesaian diberikan skor sesuai dengan tingkat penyelesaiannya. Tes uraian memiliki karekteristik sebagai berikut :
1)     Tes tersebut berbentuk pertanyaan atau perintah yang menghendaki jawaban berupa uraian paparan kalimat yang pada umumnya cukup panjang.
2)     Bentuk - bentuk pertanyaan atau perintah itu menuntut kepada testee untuk memberikan penjelasan komentar, penafsiran, membandingkan, membedakan dan sebagainya.
3)     Jumlah butir soalnya umumnya terbatas, yaitu berkisar antara lima sampai sepuluh soal.
Adapun langkah-langkah pemberian skor soal bentuk uraian objektif adalah:
1)     Pada  umumnya butir- butir soal tes uraian diawali dengan kata : jelaskan ……, Terangkan………, Uraikan………., Bagaimana………, atau kata- kata lain yang serupa dengan itu.
2)     Tuliskan semua kata kunci atau kemungkinan jawaban benar secara jelas untuk setiap soal.
3)     Setiap kata kunci yang dijawab diberi skor 1. Tidak ada skor setengah untuk jawaban yang kurang sempurna. Jawaban yang diberi skor satu adalah jawaban sempurna, jawaban lainnya adalah 0
4)     Jika satu pertanyaan memeliki sub pertanyaan, perincilah kata kunci dari jawaban soal tersebut menjadi beberapa kata kunci subjawaban dan buatkan skornya.

c.      Penskoran soal uraian non objektif
Dalam penskoran soal non- objektif, seoarang guru perlu membuat pedoman penskoran dalam bentuk rubric. Adapun langkah-langkah pemberian skor untuk soal bentuk uraian non-objektif adalah sebagai berikut:
1)     Tulislah garis-garis besar jawaban sebagai criteria jawaban untuk dijadikan pegangan dalam pemberian skor.
2)     Tetapkan rentang skor untuk setiap criteria jawaban bergantung pada kualitas jawaban yang diberikan oleh peserta didik
3)     Pemberian skor pada setiap jawaban bergantung pada kualitas jawabana yang diberikan oleh peserta didik
4)     Jumlahkan skor-skor yang diperoleh dari setiap criteria jawaban sebagai skor peserta didik
5)     Periksalah soal untuk setiap nmor  dari semua peserta didik sebelum pindah ke nomor soal yang lain.
6) 
          Nilai tiap soal =  x bobot soal

Jika setiap butir soal telah selesai dskor, hitunglah jumlah skor perolehan peserta didik untuk setiap sol, kemudian hitunglah nilai tipa soal dengan rumus:

7)     Jumlahkan semua nilai yang diperoleh dai semua soal. Jumlah nilai ini disebut nilai akhir dari suatu perangkat tes yang diberikan.

Referensi: 
Arifin, zainal. Evaluasi Pembelajaran. Rosda: Bandung, 2009.
Depdiknas. Evaluasi pendidikan . Depdiknas: Bandung, 2002.     

Konsep Dasar Evaluasi


A.    Konsep Dasar Evaluasi
Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu proses yang sistematis untuk menentukan sejauh mana tingkat ketercapaian para siswa terhadap tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Batasan  tersebut mengandung dua hal penting, yakni bahwa evaluasi merupakan suatu proses yang sistematis, artinya terdiri dari serangkaian kegiatan yang dilakaukan melalui dan berdasarkan aturan –aturan tertentu. Di samping itu evaluasi juga selalu dihubungkan dengan tujuan –tujuan pembelajaran yang telah di tetapkan, sebab tanpa ditetapkannya tujuan-tujuan pembelajran terlebih dahulu maka tidak mungkin membuat suatu keputusan tentang kemajuan-kemajuan yang telah dicapai para siswa.
Istilah evaluasi sering kali dikacaukan dengan pengukuran sebab memang keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Evaluasi sering kali melibatkan pengukuran dan pengukuran biasanya diikuti oleh evaluasi. Perbedaanya terletak pada sifatnya yakni, kalau pengukuran bersifat kuantitatif sedangkan evaluasi bersifat kualitatif dan kuantitatif.
Dalam proses evaluasi hasil belajar, pengukuran mempunyai peranan yang sangat penting, yakni untuk mendapatkan data dan informasi yang sesuai dengan sifatanya yang lebih objektif dan dapat mendukug objektifitas suatu proses evaluasi hasil belajar.

1.      Definisi Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi
Istilah pengukuran, penilaian, dan evaluasi terkadang orang mengartikan sama, hanya tergantung dari kata mana yang sedang siap untuk diucapkannya. Akan tetapi sementara orang yang lain, membedakan ketiga istilah tersebut, dan untuk memahami apa persamaan, perbedaan atau hubungan antara ketiganya dapat dipahami melalui contoh berikut:
a.       apabila ada orang yang akan membeli sebatang pensil  kepada kita, dan kita disuruh untuk memilih antara dua pensil yang tidak sama panjang , maka tentu saja kita akan memilih yang panjang. kita tidak akan memilih yang pendek kecuali ada alas an yang sangat khusus.
b.      apabila ada orang yang ingin membeli jeruk , dipilihnya jeruk yang besar, kuning dan kulitnya halus. semuanya itu dipertimbangkan karena menurut pengalaman sebelumnya, jeruk yang demikian ini rasanya akan manis.
Dari contoh di atas ini dapat kita simpulkan bahwa sebelum menentukan pilihan, kita mengadakan penilaian terhadap benda-benda yang akan kita pilih.  Untuk dapat mengadakan penilaian, kita mengadakan pengukuran terlebih dahulu. Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif.
Ø  Evaluasi  adalah mengindentifikasi atau proses pengumpulan data   untuk menilai apakah program yang direncanakan telah tercapai atau belum.
Ø  Penilaian adalah penerapan berbagai cara penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar siswa atau pencapaian kompetensi.
Ø  Pengukuran adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan dimana seseorang telah mencapai karakteristik itu.
Ø  Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada siswa pada waktu
2.      Fungsi Evaluasi
Fungsi evaluasi yaitu sebagai berikut:
a.       Evaluasi berfungsi selektif
Evaluasi yang di gunakan untuk memilih siswa yang paling
tepat sesuai dengan kriteria program kegiatan tertentu
. Evaluasi sendiri memiliki berbagai tujuan, anatara lain:
1)      untuk memilih siswa yang dapat diterima di sekolah tertentu.
2)      untuk memilih siswa yang naik kelas atau tingkat berikutnya.
3)      untuk memi8lih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.
b.      Evaluasi berfungsi diagnostic
Dengan mengadakan evaluasi, sebenarnya guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya beserta faktor-faktor penyebabnya.
c.       Evaluasi berfungsi sebagai penempatan
Evaluasi yang digunakan untuk menempatkan siswa dalam program pendidikan tertentu yang sesuai dengan karakteristik siswa. Sekelompok siswa yang memiliki hasil belajar yang sama akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.
d.      Evaluasi berfungsi sebagai pengukur keberhasilan
Fungsi keempat dari evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan.
3.      Tujuan Evaluasi
Tujuan yanag akan dicapai dalam melaksanakan evaluasi adalah:
a.       Untuk mengetahui kemajuan belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
b.      Untuk mengetahui efektifitas metode pembelajaran
c.       Kedudukan siswa dalam kelompok
d.      Memperoleh masukan atau umpan balik bagi guru dan siswa dalam rangka pembelajran
e.       Memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan siswa sehingga memungkinkan dilaksanakannya pengayaan dan remediasi untuk memenuhi kebutuhan siswa,
f.       Membentuk masukan kepada guru untuk memperbaiki program pembelajarannya di kelas
g.      Memungkinkan siswa mencapai kompetensi yang telah ditentukan waktu dan kecepatan yang berbeda.
h.      Memberikan informasi yang lebih komulatif kepada masyarakat tentang efektifitas pendididkan sehingga meningkatkan partisipasi.
4.      Prosedur Evaluasi
a.       Menetapkan tujuan, tujuan merupakan dasar untuk menentukan arah, ruang lingkup materi, jenis/model dan karakter alat penilaian
b.      memilih dan mengembangkan instrument, untuk memperoleh informasi deskriptif
dan/atau informasi judgemantal dapat berwujud tes maupun non-test. Tes dapat berbentuk obyektif atau uraian; sedang non-tes dapat berbentuk lembar pengamatan atau kuesioner. Tes obyektif dapat berbentuk jawaban singkat, benar salah, menjodohkan dan pilihan ganda dengan berbagai variasi : biasa, hubungan antar hal, kompleks, analisis kasus, grafik dan gambar tabel. Untuk tes uraian yang juga disebut dengan tes subyektif dapat berbentuk tes uraian bebas, bebas terbatas, dan terstruktur. Selanjutnya untuk penyusunan instrumen tes atau nontes, dosen harus mengacu pada pedoman penyusunan masing-masing jenis dan bentuk tes atau non tes agar instrumen yang disusun memenuhi syarat instrumen yang baik, minimal syarat pokok instrumen yang baik, yaitu valid (sah) dan reliabel (dapat dipercaya).
c.       Pelaksanaan pengukuran, untuk menggambarkan pengetahuan dan ketrampilan siswa atau sebagai dasar untuk mengambil keputusan maka dilakukan pengukuran sebab guru tidak dapat membantu siswanya secara efektif jika tidak mengetahui pengetahuan dan ketrampilan yang dikuasai siswanya dan pelajaran apa yang masih menjadi masalah bagi siswanya. Hal yang sama pentingnya adalah guru tidak dapat memperbaiki jika tidak memperoleh indikasi efektifitas dalam mengajar.
d.      Pemeriksaan hasil, hal ini dilakukan untuk mengetahui hasil dari pengukuran. Dalam pemeriksaan hasil diperlukan ketelitian agar tidak terjadi kesalahan.
e.       Verifikasi data, maksudnya ialah untuk memisahkan data yang “baik” yang akan dapat memperjelas gambaran yang akan kita peroleh mengenai individu atau sekelompok individu yang sedang kita evaluasi, dari data yang kurang baik yang hanya akan merusak atau mengaburkan gambaran yang akan kita peroleh apabila turut kita olah juga.
f.       Analisis data, berarti mengubah wujud data yang sudah dikumpulkan menjadi sebuah sajian data yang menarik dan bermakna. Data hasil evaluasi yang berbentuk kualitatif diolah dan dianalisis secara kualitatif, sedangkan data hasil evaluasi yang berbentuk kuantitatif diolah dan dianalisis dengan bantuan statistika deskriptif maupun statistika inferensial
g.      Interpretasi, memberikan pernyataan (statement) mengenai hasil pengolahan data. Interpretasi terhadap suatu hasil evaluasi didasarkan atas kriteria tertentu yang ditetapkan terlebih dahulu secara rasional dan sistematis sebelum kegiatan evaluasi dilaksanakan, tetapi dapat pula dibuat berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh dalam melaksanakan evaluasi. Sebaliknya jika penafsiran data tidak berdasarkan kriteria atau norma tertentu
h.      pencatatan dan pelaporan, Pada akhir penggal waktu proses pembelajaran, antara lain akhir catur wulan, akhir semester, akhir tahun ajaran, akhir jenjang persekolahan diperlukan suatu laporan kemajuan peserta didik, yang selanjutnya merupakan laporan kemajuan sekolah. Laporan ini akan memberikan bukti sejauh mana tujuan pendidikan yang diharapkan oleh anggota masyarakat khususnya orang tua peserta didik dapat tercapai.


Referensi :
 Arikanto , Suharsimi. Dasar-dasar evaluasi. Bumi Aksara: Jakarta, 2010.
       Depdiknas. Evaluasi pendidikan. Depdiknas: Bandung, 2002.      
       Purwanto. Evaluasi Hasil belajar. Pustaka Belajar: Yogyakarta, 2011.
       http://www.hilman.web.id/posting/blog/827/pengertian-fungsi-dan-prosedur     evaluasi-pembelajaran.html.2010
      "http://sopwanhadi.wordpress.com/2010/01/31/langkah-langkah-pelaksanaan-dalam-evaluasi-pembelajaran-pai/"
      http://alisadikinwear.wordpress.com/author/aliwear/" \o "Tulisan oleh aliwear" 20 Oktober 2011
     "http://putrohari.tripod.com/mengukur_pencapaian.htm"
     "http://lpp.uns.ac.id/wp.../PANDUAN-EVALUASI-PEMBELAJARAN.pdf